WAHANANEWS.CO, Jakarta - Konflik militer yang meletus di Timur Tengah sejak akhir Februari kini mulai mengguncang stabilitas ekonomi global, dengan lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran serius terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga daya beli masyarakat di Amerika Serikat.
Ketegangan tersebut bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Jumat (28/2/2026), memicu eskalasi militer yang efeknya kini mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi internasional.
Baca Juga:
Tegang di Selat Hormuz, Kemlu Lakukan Diplomasi Intensif ke Iran Demi Kapal Indonesia
Dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, melainkan juga oleh masyarakat global, termasuk warga Amerika Serikat sendiri yang kini harus menanggung kenaikan tajam harga energi.
Harga minyak mentah dunia melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, sehingga memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi domestik AS yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan inflasi dan perlambatan aktivitas ekonomi.
Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga bensin di Amerika Serikat telah naik sekitar 65 sen sejak konflik pecah.
Baca Juga:
Indonesia Siap Kirim 20.000 Prajurit ke Gaza, Tapi Akhirnya Hanya 8.000! Ini Alasannya
Kenaikan harga solar bahkan tercatat lebih tajam.
Harga solar melonjak hingga 1,13 dollar AS sejak perang dimulai.
Meski Amerika Serikat dinilai lebih tangguh menghadapi guncangan energi dibandingkan beberapa dekade lalu, para analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan pada infrastruktur energi maupun jalur pengiriman minyak tetap berpotensi menekan ekonomi domestik.