"Semua mata tertuju pada Selat Hormuz," ujar Jason Thomas, Kepala Riset Global dan Strategi Investasi di Carlyle.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati perairan tersebut setiap harinya.
Baca Juga:
Tegang di Selat Hormuz, Kemlu Lakukan Diplomasi Intensif ke Iran Demi Kapal Indonesia
Lonjakan harga energi juga langsung menghantam sektor transportasi, terutama industri penerbangan yang sangat bergantung pada bahan bakar sebagai komponen biaya operasional terbesar.
Penurunan harga saham maskapai penerbangan pun terus terjadi dalam beberapa hari terakhir, sehingga memaksa banyak analis menurunkan proyeksi pendapatan industri tersebut.
Dampak kenaikan biaya energi juga mulai dirasakan oleh sektor logistik, termasuk perusahaan pengiriman peralatan medis yang bergantung pada transportasi jarak jauh.
Baca Juga:
Indonesia Siap Kirim 20.000 Prajurit ke Gaza, Tapi Akhirnya Hanya 8.000! Ini Alasannya
"Jika kita melihat lonjakan harga, hal itu akan diteruskan kepada pelanggan," kata Co-CEO Strata Critical Medical, Melissa Tomkiel.
Beberapa perusahaan lain bahkan mulai mengambil langkah penyesuaian biaya demi menutup beban operasional yang terus meningkat akibat harga bahan bakar.
Biaya tambahan mulai diterapkan kepada pelanggan oleh sejumlah perusahaan konstruksi.