Jika harga minyak dunia bertahan di kisaran 100 dollar AS per barel, tingkat inflasi tahunan di Amerika Serikat diperkirakan dapat mencapai 3,5 persen pada musim panas mendatang.
Namun sebagian ekonom menilai dampaknya bisa saja hanya bersifat sementara.
Baca Juga:
Tegang di Selat Hormuz, Kemlu Lakukan Diplomasi Intensif ke Iran Demi Kapal Indonesia
"Hanya akan menjadi seperti blip," ujar ekonom senior AS di Barclays, Pooja Sriram.
Sementara itu Goldman Sachs memperkirakan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 dollar AS per barel dapat memangkas pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan sekitar 0,1 poin persentase.
Perlambatan pertumbuhan tersebut berisiko memperburuk kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang dalam enam bulan terakhir menunjukkan tren pelemahan.
Baca Juga:
Indonesia Siap Kirim 20.000 Prajurit ke Gaza, Tapi Akhirnya Hanya 8.000! Ini Alasannya
Dampak konflik Timur Tengah juga merembet ke sektor yang tampaknya tidak berkaitan langsung dengan energi, yakni pasar perumahan.
Ketidakpastian inflasi akibat perang membuat suku bunga kredit pemilikan rumah kembali merangkak naik.
Data Freddie Mac pada Rabu (12/3/2026) menunjukkan rata-rata bunga KPR 30 tahun di Amerika Serikat berada di level 6,11 persen.