WHO menyatakan kini ada delapan kasus yang dikonfirmasi laboratorium, dengan kasus suspek dan kematian lain tersebar di tiga zona kesehatan termasuk Bunia selaku ibu kota Provinsi Ituri, serta kota tambang emas Mongwalu dan Rwampara.
Satu kasus virus bahkan telah dikonfirmasi di ibu kota Kinshasa, yang diyakini menjangkiti seorang pasien yang baru kembali dari Ituri. Tidak hanya itu, virus ini tercatat sudah melintasi batas negara dengan ditemukannya dua kasus konfirmasi di negara tetangga, Uganda, di mana seorang pria berusia 59 tahun dilaporkan tewas pada hari Kamis setelah dinyatakan positif.
Baca Juga:
Pulau Terpadat Dunia, Hanya 2000 Meter Jadi Rebutan Ada Kasino dan Rumah Bordir
Pemerintah Uganda langsung mengambil tindakan cepat dengan memulangkan jenazah pasien tersebut ke negara asalnya untuk menekan risiko penularan lokal.
"Pasien yang meninggal dunia merupakan warga negara Kongo yang jenanahnya telah dikembalikan ke RD Kongo," bunyi pernyataan resmi Pemerintah Uganda.
Konflik Perparah Penularan Ebola
Baca Juga:
Banjir Maut di Kongo Timur: Ratusan Tewas, Desa Lenyap dalam Sekejap
Situasi kian mencekam setelah sebuah laboratorium mengonfirmasi temuan kasus baru di wilayah timur yang rawan konflik bersenjata. Mengutip laporan kantor berita AFP, sebuah laboratorium juga telah mengonfirmasi kasus Ebola di kota timur Goma, yang saat ini dikendalikan oleh pemberontak M23.
WHO memaparkan bahwa kombinasi antara krisis kemanusiaan, tingginya mobilitas warga, dan kondisi fasilitas kesehatan informal yang menjamur menjadi faktor utama yang mempercepat penularan virus mematikan ini. Negara-negara yang berbatasan langsung dengan RD Kongo kini berada dalam status risiko tinggi akibat aktivitas perdagangan dan perjalanan yang intens.
Merespons ancaman tersebut, Pemerintah Rwanda langsung memperketat pengawasan di sepanjang perbatasan demi mencegah masuknya virus ke wilayah mereka.