"Sistem pengawasan telah diperkuat dan tim kesehatan berada dalam kondisi siaga untuk memastikan deteksi dini dan respons cepat jika diperlukan," tegas Kementerian Kesehatan Rwanda.
Guna meminimalkan penyebaran, WHO menyarankan agar RD Kongo dan Uganda segera mendirikan pusat operasi darurat untuk memantau, melacak, dan menerapkan langkah pencegahan infeksi.
Baca Juga:
Pulau Terpadat Dunia, Hanya 2000 Meter Jadi Rebutan Ada Kasino dan Rumah Bordir
Otoritas kesehatan menekankan bahwa setiap negara harus memberlakukan karantina ketat bagi pasien bergejala sampai mereka benar-benar dinyatakan bersih dari virus melalui tes spesifik.
"Kasus konfirmasi harus segera diisolasi dan dirawat hingga dua tes spesifik virus Bundibugyo yang dilakukan terpisah setidaknya 48 jam menunjukkan hasil negatif," tulis panduan medis WHO.
Bagi negara-negara yang berbatasan dengan wilayah terdampak, pemerintah diimbau untuk meningkatkan pengawasan dan pelaporan kesehatan. Namun, WHO menegaskan agar negara di luar kawasan tidak melakukan tindakan ekstrem yang dapat melumpuhkan sektor perekonomian global.
Baca Juga:
Banjir Maut di Kongo Timur: Ratusan Tewas, Desa Lenyap dalam Sekejap
"Negara-negara di luar wilayah terdampak sebaiknya tidak menutup perbatasan mereka atau membatasi perjalanan dan perdagangan karena tindakan seperti itu biasanya diterapkan karena rasa takut dan tidak memiliki dasar ilmiah," tambah badan tersebut.
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus turut menyuarakan kekhawatirannya mengenai validitas data riil di lapangan yang diduga jauh lebih besar dari laporan resmi.
"Ada ketidakpastian yang signifikan terhadap jumlah sebenarnya dari orang yang terinfeksi dan penyebaran geografis dari wabah ini," tutur Ghebreyesus memperingatkan.