Sejak Presiden Putin mengeluarkan instruksi melakukan operasi militer (yang dianggap invasi oleh banyak negara), muncul ketidakpastian ekonomi di berbagai sektor.
Pertama, ancaman terhadap ketersediaan minyak dan gas bagi negara-negara Eropa.
Baca Juga:
Rusia Hujani Drone Ukraina, 77 Pesawat Nirawak Ditembak Jatuh dalam Semalam
Rusia menguasai 40 persen pasokan gas alam dan 25 persen pasokan minyak di Eropa.
Hal paling dekat yang akan terjadi adalah berkurangnya pasokan minyak dan gas untuk konsumen Eropa yang masih menghadapi musim dingin dalam setidaknya satu bulan ke depan.
Kekurangan pasokan minyak dan gas akan berakibat pada naiknya harga minyak dan gas.
Baca Juga:
Tak Peduli Tahun Baru, Rusia Enggan Gencatan Senjata di Ukraina
Padahal dalam situasi normal beberapa waktu yang lalu, harga minyak dan gas sudah melonjak naik.
Kedua, naiknya harga minyak dan gas tentu juga akan berpengaruh kepada aktivitas produksi yang sangat mengandalkan minyak dan gas sebagai bahan baku produksi.
Kenaikan harga minyak global tentu akan memberikan pukulan bagi harga jual sektor industri, termasuk Indonesia, apalagi dunia masih berhadapan dengan pandemi Covid-19.