Ilmuwan menilai tingkat panas bumi pada masa depan sangat bergantung pada seberapa banyak bahan bakar fosil yang terus dibakar manusia.
Jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer menjadi salah satu faktor utama yang menentukan seberapa jauh pemanasan global akan berlangsung.
Baca Juga:
Cuaca Panas Mendidih, AC Makin Laku Keras di RI
Para ilmuwan menggunakan sejumlah skenario karena perilaku manusia, perkembangan teknologi, kebijakan pemerintah, dan penggunaan energi di masa depan tidak dapat diprediksi secara pasti.
Ilmuwan iklim Cornell University Flavio Lehner mengatakan proyeksi tersebut pada akhirnya sangat bergantung pada pilihan manusia.
“Semua ini bergantung pada apa yang dilakukan manusia dan manusia sulit diprediksi,” kata Lehner.
Baca Juga:
Eropa Barat Diterjang Gelombang Panas Ekstrem, PBB Sebut Iklim Makin Buruk
Menurut Lehner, keputusan politik serta pilihan mengenai penggunaan energi membuat masa depan emisi tidak dapat dihitung layaknya fenomena alam yang sepenuhnya mengikuti hukum fisika.
Meski demikian, terdapat kabar yang relatif lebih baik dibandingkan kekhawatiran ilmuwan sekitar satu dekade lalu.
Skenario paling buruk yang dapat membuat suhu bumi meningkat sekitar 9 hingga 10 derajat Fahrenheit atau sekitar 5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri kini dinilai memiliki kemungkinan lebih kecil.