WAHANANEWS.CO, Jakarta - Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah dinilai bukan sekadar perang regional, melainkan ancaman nyata bagi energi dan ekonomi Indonesia yang bisa berdampak hingga ke harga BBM dan daya beli masyarakat.
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan ketahanan energi dan fondasi ekonomi nasional menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Baca Juga:
Konflik Melebar, Washington Kirim Marinir dari Jepang ke Timur Tengah
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (3/3/2026), Ibas menilai konflik di kawasan tersebut berpotensi memperluas instabilitas geopolitik global serta memberi tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
"Dunia hari ini berada dalam situasi ketidakpastian yang serius. Ketika konflik bersenjata terjadi di pusat energi dunia, dampaknya menjalar ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita harus waspada, responsif, dan strategis," ucapnya.
Menurut dia, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi global, jalur perdagangan internasional, inflasi dunia, serta keamanan kawasan.
Baca Juga:
Dunia Waswas, Iran Siap Bakar Jalur Energi Global Jika Diserang Lagi
Ia secara khusus menyoroti Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia yang berbatasan langsung dengan Iran sehingga berisiko terdampak apabila eskalasi konflik meningkat.
Selat Hormuz, lanjut dia, merupakan jalur distribusi bagi sekitar 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap hari sekaligus rute utama pengiriman gas alam cair dari Qatar sehingga gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu kejutan pasokan global.
"Bagi Indonesia, ini bukan sekadar angka di pasar bursa, melainkan ancaman nyata terhadap biaya operasional industri dan ketersediaan BBM di tingkat ritel. Kita harus sadar bahwa gangguan di selat tersebut dapat melambungkan harga minyak mentah jauh di atas asumsi makro APBN kita," ucap Ibas.