Selain minyak mentah, ia menyebut gangguan distribusi di jalur tersebut juga dapat berdampak sistemis terhadap rantai pasok global akibat lonjakan biaya asuransi pengiriman serta pengalihan rute kapal tanker yang meningkatkan ongkos logistik internasional.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut dinilai dapat memicu kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri di dalam negeri yang berujung pada tekanan terhadap sektor manufaktur nasional.
Baca Juga:
Ali Khamenei Tewas Digempur Serangan Udara AS-Israel, Iran Berkabung 40 Hari
Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia disebut sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.
Ibas memprediksi kenaikan harga energi global dapat memicu tekanan pada APBN, inflasi pada sektor kebutuhan pokok, penurunan daya beli masyarakat, hingga hambatan aktivitas ekspor dan impor.
"Kita harus mengantisipasi dampak rambatan ekonomi global ini dengan langkah yang terukur dan kebijakan yang tepat sasaran demi menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.
Baca Juga:
Ali Khamenei Tewas di Bawah Reruntuhan, 900 Serangan Guncang Iran
Menyikapi dinamika tersebut, ia menekankan Indonesia tidak boleh hanya bersikap reaktif, melainkan harus mengambil langkah strategis melalui penguatan ketahanan energi, menjaga stabilitas ekonomi dan perlindungan rakyat, serta menjalankan diplomasi yang aktif dan konsisten.
Ia juga mengingatkan bahwa konstitusi mengamanatkan Indonesia untuk turut melaksanakan ketertiban dunia sehingga nilai-nilai Pancasila seperti kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan harus menjadi pedoman moral dalam diplomasi.
"Indonesia tidak boleh terjebak dalam polarisasi global. Kita adalah bangsa besar yang konsisten menolak perang dan kekerasan. Kita harus menjadi bangsa yang kokoh dalam nilai, kuat dalam ekonomi, dan bijak dalam diplomasi," ujarnya.