WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia dibuat kelimpungan, saat 20 persen pasokan minyak global tersendat di Selat Hormuz, harga minyak mentah langsung melonjak hingga 100 dollar AS per barel dalam krisis energi yang kian memburuk pada Kamis (26/3/2026).
Lonjakan harga ini terjadi di tengah upaya pelepasan cadangan darurat minyak global sebanyak 400 juta barel untuk menahan gejolak pasar energi.
Baca Juga:
Inggris Siap Pimpin Operasi Militer di Selat Hormuz
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan terbesar sepanjang sejarah pasar minyak dunia.
“Gangguan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” disertai seruan untuk menekan konsumsi energi secara luas.
Perbedaan infrastruktur energi dan sistem transportasi di tiap negara membuat respons terhadap krisis ini tidak seragam.
Baca Juga:
Perang Iran Picu Krisis, Korea Selatan Aktifkan Nuklir dan Batasi Energi
Sejumlah negara langsung mengambil langkah cepat, sementara yang lain masih menunggu perkembangan situasi global.
IEA mencatat sektor transportasi darat menyumbang sekitar 45 persen dari total permintaan minyak dunia.
Hal ini membuat sektor tersebut menjadi target utama kebijakan penghematan energi di berbagai negara.