Meski gencatan senjata telah berlangsung sekitar satu bulan dan kawasan Teluk relatif tenang dalam 48 jam terakhir, ancaman keamanan masih terasa nyata. Drone-drone bermusuhan dilaporkan terdeteksi di beberapa negara Teluk pada Minggu, memperlihatkan bahwa risiko eskalasi masih membayangi kawasan.
Di tengah situasi tersebut, kapal pengangkut gas alam cair milik QatarEnergy, Al Kharaitiyat, berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman dan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan, berdasarkan data perusahaan analitik pelayaran Kpler. Kapal itu menjadi kapal Qatar pertama yang membawa LNG melewati selat sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Baca Juga:
Gegera Perang Iran, Zelensky Sebut AS Lupa Perang Ukraina
Sumber-sumber menyebut pelayaran tersebut mendapat persetujuan Iran sebagai langkah membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar, yang juga berperan sebagai mediator.
Selain itu, kapal kargo berbendera Panama yang menuju Brasil juga berhasil melintasi selat menggunakan jalur yang telah ditentukan angkatan bersenjata Iran. Tasnim melaporkan kapal tersebut sebelumnya sempat mencoba melewati selat pada 4 Mei.
Adapun tekanan terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang terus meningkat menjelang kunjungannya ke China pekan ini. Konflik tersebut telah memicu krisis energi global dan menambah ancaman terhadap perekonomian dunia.
Baca Juga:
China Dorong AS-Israel & Iran Berdamai, Ini Alasannya
Iran sendiri masih membatasi sebagian besar pelayaran non-Iran di Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelum perang menjadi rute sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jalur ini kini berubah menjadi salah satu titik tekanan utama dalam konflik.
Saat ditanya apakah operasi militer terhadap Iran telah berakhir, Trump memberikan jawaban ambigu.
"Mereka sudah dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka sudah selesai," katanya dalam wawancara yang ditayangkan Minggu.