"Kami terus mencari berbagai ide berbeda," kata Wright dalam wawancara dengan NBC.
Namun AS juga menghadapi minimnya dukungan internasional. Sekutu NATO menolak permintaan Washington untuk mengirim kapal guna membuka Selat Hormuz tanpa adanya kesepakatan damai penuh dan mandat internasional resmi.
Baca Juga:
Gegera Perang Iran, Zelensky Sebut AS Lupa Perang Ukraina
Di dalam negeri, Trump juga harus menghadapi tekanan dari Partai Demokrat yang berupaya menghentikan perang melalui legislasi War Powers Act.
Senator Demokrat senior Jack Reed bahkan menilai situasi memburuk akibat kebijakan Trump sendiri.
"Ini adalah situasi yang menjadi jauh lebih buruk karena tindakan Donald Trump, dan sekarang dia kelabakan mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini," kata Reed kepada Fox News.
Baca Juga:
China Dorong AS-Israel & Iran Berdamai, Ini Alasannya
Inggris, yang tengah bekerja sama dengan Prancis untuk menyiapkan proposal keamanan pelayaran setelah situasi stabil, pada Sabtu mengumumkan pengerahan kapal perang ke Timur Tengah. Langkah serupa sebelumnya juga dilakukan Prancis.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memperingatkan bahwa pengerahan kapal perang Inggris, Prancis, atau negara lain di sekitar Selat Hormuz dengan dalih "melindungi pelayaran" akan dianggap sebagai eskalasi dan dibalas dengan kekuatan.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan negaranya siap membantu misi internasional, namun menepis adanya rencana pengerahan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz.