WAHANANEWS.CO, Jakarta - Korupsi mungkin terlihat sebagai persoalan uang, kekuasaan, dan kesempatan, tetapi ketika seseorang dihadapkan pada pilihan menerima suap atau menolaknya, sebuah pertarungan yang jauh lebih senyap berlangsung di dalam otaknya.
Otak menghitung keuntungan yang bisa diperoleh, mempertimbangkan konsekuensi moral, membaca kerugian yang akan dialami orang lain, sekaligus menentukan apakah godaan tersebut harus ditolak atau justru diterima.
Baca Juga:
Kejagung Bongkar Dugaan Transfer Pricing PT TPL, Kerugian Negara Sementara Tembus Rp2 Triliun
Menariknya, proses itu kini bukan sekadar teori psikologi karena sejumlah penelitian menggunakan functional magnetic resonance imaging atau fMRI telah memperlihatkan bagaimana jaringan otak manusia bekerja ketika menghadapi keputusan yang menyerupai praktik korupsi.
Salah satu penelitian paling relevan diterbitkan di jurnal ilmiah eLife pada 2021 dengan judul "Neural basis of corruption in power-holders", yang secara khusus mempelajari mekanisme otak ketika seseorang yang memiliki kekuasaan memutuskan menerima atau menolak suap.
Temuannya memberikan gambaran menarik bahwa korupsi tidak muncul dari satu "pusat korupsi" di dalam otak, melainkan dari interaksi berbagai jaringan yang menghitung keuntungan pribadi, biaya moral, kerugian terhadap orang lain, serta pengendalian perilaku.
Baca Juga:
Duit Iklan Bank BJB Rp409 Miliar Diusut KPK, 4 Tersangka Langsung Masuk Tahanan
Ketika Otak Ditawari Suap
Dalam eksperimen tersebut, peserta ditempatkan sebagai pemegang kekuasaan atau power-holder dan harus menentukan apakah mereka menerima atau menolak tawaran uang dari pihak lain.
Para peneliti kemudian membuat situasi menjadi semakin kompleks karena menerima uang tersebut dalam kondisi tertentu berarti membantu tindakan curang, sementara dalam skenario lain keputusan itu juga menyebabkan kerugian bagi pihak ketiga yang tidak bersalah.