Ada temuan neurosains lain yang membuat persoalan ini semakin menarik, yakni manusia ternyata dapat mengalami adaptasi terhadap ketidakjujuran yang dilakukan berulang kali.
Penelitian Neil Garrett, Stephanie Lazzaro, Dan Ariely, dan Tali Sharot yang diterbitkan dalam Nature Neuroscience pada 2016 menemukan ketidakjujuran demi keuntungan pribadi cenderung meningkat ketika dilakukan berulang.
Baca Juga:
Kejagung Bongkar Dugaan Transfer Pricing PT TPL, Kerugian Negara Sementara Tembus Rp2 Triliun
Dalam eksperimen tersebut, peneliti meminta peserta melakukan tugas yang memungkinkan mereka memperoleh keuntungan melalui ketidakjujuran.
Pada awalnya penyimpangan relatif kecil, tetapi ketika kebohongan memberikan keuntungan bagi diri sendiri dan dilakukan berulang kali, tingkat ketidakjujuran peserta cenderung meningkat.
Pemindaian fMRI menemukan sesuatu yang menarik pada amigdala, wilayah otak yang antara lain terlibat dalam pemrosesan emosi.
Baca Juga:
Duit Iklan Bank BJB Rp409 Miliar Diusut KPK, 4 Tersangka Langsung Masuk Tahanan
Respons amigdala terhadap ketidakjujuran yang menguntungkan diri sendiri semakin berkurang seiring pengulangan tindakan tersebut.
Lebih jauh lagi, besarnya penurunan respons amigdala pada satu keputusan dapat memprediksi seberapa besar ketidakjujuran peserta akan meningkat pada keputusan berikutnya.
Peneliti menyebut mekanisme ini sebagai salah satu penjelasan biologis bagi fenomena slippery slope atau lereng licin ketidakjujuran.