Bayangkan otak seperti sedang membuat sebuah neraca.
Di satu sisi terdapat keuntungan pribadi, sementara di sisi lainnya terdapat biaya moral karena membantu kecurangan dan kemungkinan merugikan orang lain.
Baca Juga:
Kejagung Bongkar Dugaan Transfer Pricing PT TPL, Kerugian Negara Sementara Tembus Rp2 Triliun
Keputusan akhirnya bergantung pada nilai subjektif yang terbentuk dari berbagai komponen tersebut.
Penelitian yang sama juga menemukan keterlibatan dorsolateral prefrontal cortex atau dlPFC, terutama dalam mengarahkan perilaku antikorupsi ketika keputusan menerima suap akan merugikan pihak ketiga.
Temuan ini penting karena dlPFC selama ini dikaitkan dengan kontrol kognitif dan berbagai keputusan mengenai kejujuran, keadilan, serta perilaku sosial.
Baca Juga:
Duit Iklan Bank BJB Rp409 Miliar Diusut KPK, 4 Tersangka Langsung Masuk Tahanan
Namun, hasil penelitian tersebut tidak berarti orang yang melakukan korupsi mempunyai vmPFC, dlPFC, atau rTPJ yang "rusak".
Penelitian menunjukkan perbedaan proses dan pola aktivitas ketika manusia mengambil keputusan koruptif, bukan menemukan kerusakan otak anatomis yang dapat digunakan untuk mendiagnosis seseorang sebagai koruptor.
Kebohongan Kecil Bisa Membuat Otak Terbiasa