Kekuasaan Juga Mengubah Cara Kita Merespons Orang Lain
Ada satu faktor lain yang relevan dengan korupsi, yakni kekuasaan.
Baca Juga:
Kejagung Bongkar Dugaan Transfer Pricing PT TPL, Kerugian Negara Sementara Tembus Rp2 Triliun
Penelitian Jeremy Hogeveen, Michael Inzlicht, dan Sukhvinder Obhi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology: General menemukan bahwa induksi perasaan memiliki kekuasaan dapat mengurangi motor resonance ketika seseorang mengamati tindakan orang lain.
Motor resonance berkaitan dengan bagaimana sistem saraf seseorang merespons tindakan yang dilakukan orang lain, sehingga penelitian tersebut memberikan bukti bahwa pengalaman kekuasaan dapat memengaruhi cara otak merespons manusia di sekitarnya.
Namun, temuan itu juga tidak boleh disederhanakan menjadi klaim bahwa kekuasaan otomatis "mematikan empati" atau membuat seseorang menjadi koruptor.
Baca Juga:
Duit Iklan Bank BJB Rp409 Miliar Diusut KPK, 4 Tersangka Langsung Masuk Tahanan
Yang dapat dikatakan berdasarkan penelitian adalah kekuasaan mampu memodulasi proses sosial tertentu di otak, sementara perilaku korupsi tetap muncul melalui interaksi antara individu dan lingkungan.
Otak Koruptor Tidak Berbeda Seperti Otak yang Sakit
Neurosains pada akhirnya memberikan kesimpulan yang mungkin lebih mengkhawatirkan daripada gagasan bahwa koruptor mempunyai otak yang abnormal.