Artinya, pelanggaran kecil yang pada awalnya terasa tidak nyaman dapat menjadi lebih mudah dilakukan setelah berulang kali dilanggar.
Dari Amplop Kecil Menuju Korupsi Besar?
Baca Juga:
Kejagung Bongkar Dugaan Transfer Pricing PT TPL, Kerugian Negara Sementara Tembus Rp2 Triliun
Temuan tersebut memang bukan eksperimen terhadap koruptor yang sedang melakukan tindak pidana korupsi, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap koruptor pasti mengalami perubahan amigdala yang sama.
Namun, penelitian itu memberikan mekanisme yang masuk akal untuk memahami bagaimana ketidakjujuran demi keuntungan pribadi dapat meningkat secara bertahap.
Pada pelanggaran pertama, seseorang mungkin mengalami konflik emosional yang kuat karena sadar dirinya sedang melakukan sesuatu yang salah.
Baca Juga:
Duit Iklan Bank BJB Rp409 Miliar Diusut KPK, 4 Tersangka Langsung Masuk Tahanan
Ketika perilaku tersebut dilakukan kembali dan menghasilkan keuntungan tanpa konsekuensi berarti, respons emosional terhadap pelanggaran dapat beradaptasi.
Perbuatan yang sebelumnya terasa berat akhirnya dapat terasa lebih biasa.
Nature Reviews Neuroscience yang mengulas penelitian tersebut juga menyoroti bahwa tindakan tidak jujur kecil dapat berkembang menjadi pelanggaran yang semakin besar, sementara penurunan respons amigdala terhadap ketidakjujuran dapat memprediksi eskalasi berikutnya.