"Jika dalil Bripka AA didukung saksi-saksi dan bukti-bukti bahwa pelaku kejahatan membahayakan nyawanya, maka tindakan menembak pelaku adalah sah," kata Poengky.
Poengky juga merespons pernyataan Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Kombes Komang Suartana, yang menyebut Bripka AA nekat menembak karena membahayakan nyawanya.
Baca Juga:
Tahun 2026 Kompolnas Bakal Terima Keluhan Masyarakat Secara Digital
Sebab, saat itu korban yang dalam kondisi mabuk mengeluarkan senjata tajam dari pinggangnya.
"Harus dapat dibuktikan kalau pelaku mabuk dan menyerang dengan senjata tajam," kata Poengky.
Sebelumnya, Kombes Komang mengatakan peristiwa penembakan itu terjadi karena adanya kesalahpahaman.
Baca Juga:
Kompolnas Ingatkan Tim Reformasi Polri Wajib Libatkan Publik dan Jaga Akuntabilitas
Menurut Komang, kesalahpahaman terjadi saat Bripka AA pergi bersama dengan rekannya ke rumah seseorang bernama Nita di Jalan Rajawali, Makassar, Sulsel.
Ketika hendak pulang, korban kemudian meneriaki anggota tersebut.
Saat mendengar teriakan itu, Bripka AA kemudian mendatangi korban dan menanyakan apa maksudnya.