Jika
dirunut ke belakang, pola "marah-marah" kepala daerah juga pernah ada saat DKI
Jakarta dipimpin Ali Sadikin atau Piet Alexander Tallo di Nusa Tenggara Timur.
Jika
Bang Ali begitu keras menegakkan aturan tanpa kompromi di Jakarta, Piet
Alexander Tallo juga benci dengan kemalasan warganya.
Baca Juga:
Mensos Ungkap Nilai Nominal Bantuan Tunai Korban Bencana Sumatera: Rp8 Juta/Keluarga
Tallo
bahkan pernah menyumpal mulut seorang warga dengan tanah yang ketahuan malas
dan tidur-tiduran di waktu siang.
Sedangkan
Ahok, berhasil mengubah mental pegawai di Pemkab Belitung Timur yang terbiasa
dengan masuk kerja di waktu siang dan menghabiskan jam kantor di warung kopi.
Semasa
menjadi Gubernur Jakarta, Ahok juga kerap memaki-maki bawahannya jika ketahuan
melakukan kesalahan.
Baca Juga:
Tahun Depan Mensos Siapkan Menu MBG Rp15 Ribu untuk Lansia dan Disabilitas
Ahok
melakukan aksi marah-marah karena pegawai Pemrov DKI begitu lama dalam kondisi
nyaman tanpa ada penegakkan disiplin atas kesalahan yang dilakukan.
Gaya
kepemimpinan dengan emosi terkadang dianggap efektif untuk mengubah pola kerja
yang sudah terbentuk lama dan terbakukan.
Emosi
merupakan hal yang tidak boleh diabaikan kalau menghendaki perubahan yang
dilakukan berhasil.