Kecil peluang mereka menang dari ancaman itu
bila buta huruf.
Bagi Butet, Sokola baru dapat disebut berhasil
bila sanggup mengubah arah kurikulum nasional, dari yang kini satu arah dengan
kacamata kuda Jakarta, menjadi kurikulum pendidikan yang dialogis dan
memerdekakan.
Baca Juga:
Siswa SD Ngada Meninggal Gegara Tak Mampu Beli Buku, Komisi X DPR Ingatkan Negara soal Tanggung Jawab
Cita-cita soal pendidikan yang memerdekakan
semacam ini dulu adalah juga gagasan RA Kartini.
Sekolah perempuan yang dicita-citakan Kartini
sejak lama akhirnya berdiri di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor
Kabupaten Rembang, setelah pernikahannya dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo
Adiningrat pada 1903.
Setahun setelah pernikahannya, Kartini
melahirkan Soesalit Djojoadiningrat.
Baca Juga:
Mahasiswa dan Guru Gugat Pemerintah ke MK soal Pemangkasan Anggaran Pendidikan untuk MBG
Empat hari kemudian, ia meninggal dunia di usia
25 tahun.
Kartini tak bisa lama menikmati mimpi yang ia
wujudkan susah-payah dengan mendobrak sekat-sekat kaku patriarki dan feodalisme
dalam keluarga.
Butet, ketika melahirkan Sokola, memang tak dibatasi
oleh orangtua laiknya Kartini.